Wednesday, October 26, 2011

Apakah hati nurani manusia telah mati?

Masih ingat beberapa hari ini ada berita tentang seorang balita korban tabrak lari di cina? Tidak ada yang menolongnya padahal lebih dari 19 orang melewati balita yang terkapar di jalanan dan akhirnya di tolong oleh seorang pemulung disana. Wang yue namanya,setelah delapan hari di rawat di rumah sakit dan koma dia meninggal dunia. Sungguh tragis,ini adalah potret dari berkembang pesatnya ekonomi dan teknologi di cina sehingga berkurangnya sifat moral rakyatnya.

Seorang bocah dua tahun di China, yang menjadi korban tabrak lari oleh dua mobil yang berbeda dan diacuhkan oleh para saksi mata, hari ini meninggal dunia. Tragedi bocah bernama Wang Yue ini telah memicu kemarahan publik atas fenomena yang mereka sebut sebagai contoh masyarakat modern yang tak bermoral.


Menurut kantor berita Reuters, kabar duka itu diungkapkan sejumlah media setempat hari ini. Segala upaya pihak rumah sakit tidak berhasil menyelamatkan Wang, ungkap China News Service. Kantor berita Xinhua mengungkapkan bahwa Wang wafat karena menderita kerusakan otak sejak dilanda kecelakaan lebih dari satu pekan yang lalu.

Kedua pengemudi yang ugal-ugalan itu telah ditahan. Namun, publik di jagat maya ramai-ramai mengkritik bergemingnya sejumlah orang yang berada di lokasi kecelakaan. Mereka meninggalkan Wang begitu saja tanpa memberi perhatian, apalagi pertolongan, kendati dia luka parah di tempat kejadian.

Peristiwa itu terekam melalui kamera CCTV di dekat lokasi kecelakaan, yang berada di suatu jalan Kota Foshan, provinsi Guangdong. Stasiun televisi setempat telah memberitakan sekaligus menampilkan rekaman kecelakaan itu yang berlangsung pada 13 Oktober lalu. Peristiwa itulah yang mengundang kemarahan publik.

Meninggalnya Wang langsung menjadi topik terhangat di halaman jejaring sosial blog mikro di China, Weibo. "Saya harap malaikat kecil ini, yang telah disia-siakan publik, bisa menjadi peringatan bagi seluruh bangsa mengenai pentingnya pendidikan moral," tulis seorang blogger yang memakai nama akun Gongzai Xiaoben di Weibo.

"Saya harap kamu bisa mendapatkan cinta yang sesungguhnya di surga. Dunia ini sudah penuh dengan orang-orang apatis," tulis pengguna Weibo dengan nama akun Winter Space.

Sementara itu, menurut Xinhua, ayah Wang menerima sumbangan 270.000 yuan, sekitar Rp375,4 juta, untuk membantu biaya perawatan Wang di rumah sakit. Dia juga menerima sumbangan dari banyak pihak di China dan di mancanegara.
---------------------------------------------------------------
Yang menjadi catatan penting juga adalah kutipan berita berikut ini :

"Wanita penolong yue yue dituduh mencari popularitas"

............. Orang-orang yang terlibat dalam kasus ini diekspos secara habis-habisan, baik itu pengemudi yang menabrak, maupun orang-orang yang menunjukan sikap tak pedulinya dalam rekaman kamera CCTV. Kita tentu berharap kasus ini akan menjadi cermin bagi masyarakat di sana untuk lebih memperhatikan sisi manusiawi mereka. Namun sayangnya, harapan itu masih terlalu jauh.

Ketika yue yue terbaring tak berdaya di lokasi kejadian, hanya ada satu orang yang peduli dengan kondisi gadis itu. Ia adalah chen xianmei. Mungkin berkat chen, yueyue masih sempat dirawat di rumah sakit selama sepekan sebelum gadis malang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Setelah itu chen segera dianggap sebagai seorang pahlawan. Ia diberi kesempatan kerja tetap dan sejumlah uang dari perusahaan lokal. Namanya langsung melambung setelah terpampang di berbagai macam media.

Banyak orang yang kagum padanya, tetapi, seperti yang ditulis oleh shanghaiist, tidak sedikit pula orang yang justru malah membenci wanita ini. Bagi sebagian orang, apa yang dilakukan chen terhadap yue yue, tak lebih dari sekedar mencari popularitas dan uang. Mereka menuduh yen sebagai orang yang oportunis.

Gelombang reaksi dari orang-orang yang membenci (atau iri) terhadap chen semakin hari semakin meningkat. Dibarengi dengan orang pemerintah dan wartawan yang tak henti-hentinya berkunjung ke rumah chen siang dan malam. Wanita itu akhirnya memilih untuk angkat kaki dari tempat tinggalnya di foshan. Chen begitu trauma, bahkan kini menonton acara berita di televisi saja ia tidak berani.

"Banyak orang yang mengatakan bahwa saya melakukan itu untuk mendapatkan ketenaran dan uang. Bahkan kini tetangga saya juga mengatakan hal yang sama!" ujar chen.

Dia mengatakan dirinya tidak seperti yang dituduhkan hingga ia takut mendengar perkataan orang lain sampai ia tidak berani menonton siaran televisi.

"Saya sama sekali tak bermaksud demikian, dan saya sekarang takut mendengar perkataan dari orang lain sampai-sampai saya tak berani untuk melihat siaran berita di televisi. Saya tidak melakukan itu untuk mendapatkan uang," tegasnya.

Air matanya berlinang ketika ia mengatakan, "Saya tidak mencuri atau merampok. Apa yang saya lakukan hanyalah untuk menyelamatkan anak itu".

Fenomena sosial yang menyedihkan seperti ini tentu membuat kita bertanya. Apa gerangan yang menyebabkan tumpulnya rasa kemanusian dari sebagian masyarakat di China?

Menurut thediplomat.com, fenomena ini terjadi karena jati diri China itu sendiri. Sebagai negara yang tingkat ekonominya mengalami peningkatan secara pesat dan tajam, ekonomi kini telah menjadi tolak ukur utama bagi sebagian masyarakat di sana.

Masyarakat China di bawah didikan partai komunis China (PKC) telah berkembang menjadi terlalu utilitarian, mereka telah mencapai tingkat dimana mereka tidak dapat lagi mentoleransi orang-orang yang bertindak atas dasar altruistik (mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan dirinya sendiri). Mereka hanya bisa menganalisa tindakan heroik Chen atas dasar untung dan rugi yang ujung-ujungnya selalu dikaitkan dengan adanya reward berupa materi.

Mereka ini adalah orang-orang yang protes ketika Chen berhasil mendapatkan banyak pujian dan uang dari tindakannya tersebut, sedangkan ketika dulu mereka pernah menolong orang lain, mereka tidak mendapat perlakuan yang sama.

Terlepas dari benar atau tidaknya analisa diatas, Chen adalah bukti nyata bahwa di China masih ada orang-orang yang rasa kemanusiaannya tidak tergores oleh fenomena pergesekan moral dan sosial. Dan mereka tidak hanya satu atau dua. Hingga saat ini, situs jejaring sosial di China masih dipenuhi oleh orang-orang yang menyesali kepergian Yue Yue. Dan tidak sedikit pula dari mereka yang merasa malu atas perlakuan 'tidak peduli' yang ditunjukan oleh teman-teman sebangsa mereka di China.
---------------------------------------------------------------
Benarkah hati nurani manusia kini telah mulai mati?

Sumber : http://kaskus.us, http://dunia.vivanews.com, http://erabaru.net

No comments:

Post a Comment

Subscribe Now: google

Add to Google Reader or Homepage